frontpage hit counter
Home » Cerita Bokep » SENSASI DENGAN OMKU

SENSASI DENGAN OMKU

MEMEKBEBEK

Bapakku punya seorang kakak angkat yg umurnya tak jauh diatas bapak. Hubungan keluargaqu dgn om itu cukup akrab. om sering berkunjung ke apartmen baik untuk urusan pekerjaan ataupun hanya bersilaturahmi. Maklum om sudah pisah dari tante, yg sudah menikah lagi dgn orang lain, sedang om masih sendiri sejak perpisahannya dgn tante. Om ku ganteng, meskipun umurnya sedikit diatas bapakku tapi malah terlihat lebih muda dari bapakku

Tubuhnya tegap atletis, mungkin karena dia masih rajin melaqukan fitness seminggu sekali, jogging hampir tiap hari dan juga renang seminggu sekali. Tak seperti bapakku yg udah gendut dan keliatan tua, maklum deh bapak sibuk dgn kerjaannya, workaholik lah orang bilang, sehingga tak sempat ngapa-ngapain. waktu untuk keluarga paling weekend, itupun sering dianggu karena ada pekerjaan yg harus dilaqukan bapak. Om sering mengajak kita jalan2, kalo bapak harus melaqukan pekerjaannya.

Diam-diam aqu mengagumi om, kelihatannya macho sekali deh. Cerita ini terjadi ketika orang tua dan adekku harus keluar kota untuk menengok nenekku yg sedang sakit. Aqu tak ikut karena hari ini om akan datang untuk mengambil pesanannya yg dititipkan lewat bapak. bapak berpesan untuk menyampaikan pesanan itu kalo om datang ke apartment. Katanya om akan datang sore sekitar magrhib. Aqu senang juga karena bisa berduaan aja ama om tanpa ada orang lain diapartment yg mengganggu.

Sorenya terdengar bel pintu berbunyi. Om mengebel pintu apartmentku karena bapak dah memberi tau kalo mereka keluar kota, tapi pesanan om dititpkan pada aqu. Segera aqu membuka pintu menyambut om.

“Hai cantik”, om selalu menyapa aqu seperti itu. Seneng aqu dipuji cantik oleh om.
“Kok seneng banget kelihatannya”.
“Iya om, seneng bisa berduaan ama om”, jawabku terus terang.
“Loh kok seneng, kan dah sering jalan ma om”.
“Iya tapi kan ramean. duduk om. ini pesenan om yg dititipkan bapak buat om”.

Om duduk di sofa. Memang apartment aqu dan adekku lumayan lengkap perabotannya meskipun serba minimalis. Di ruang tamu yg merangkap kamar makan ada seperangkat sofa, tv, audio system, meja makan dan pantri kering. Dapur diubah fungsi sebagai gudang karena makanan disupply dari apartment orang tua.

“Om jalan yuk”, kagaqu.
“Mo kemana”, tanya om.
“Ke mall yuk”.
“Mo nyari apa?”
“Makan ama liatliat aja. di apartment tak ada makanan. tadi mama pesen supaya aqu ngajak om nyari makan diluar aja”. “Emangnya orang tua kamu pulangnya kapan. Adekmu mana?”
“Adek ikut om, pulangnya besok sore kali”.
“Terus kamu taqut sendirian, mau om temenin”. Wah itu yg aqu harapkan bisa berduaan ama om sampe besok.
“Bentar ya om, aqu tuker baju dulu”.

Segera aqu menghilang kekamarku dan tukar pakean. Aqu tak tau, rupanya om ngintip ketika aqu tuker pakean. Tapi ya tak tejadi apa2. Kemudian segera aqu keluar apartment nersama om. Dgn manjanya aqu memeluk tangan om. Kami bermobil ke mall yg deket dgn apartmentku. Sampe malem aqu bener2 have fun bersama om, kami cari makan, dan sesudah makan om ngajak aqu nonton filem. Aqu ya ok aja, didalem bioskop aqu memegangi tangan om terus, perhatianku tak pada filemnya tapi pada sosok pria macho yg duduk disebelah aqu.

“Tu orang pada ngeliatin kita, mereka kira aqu om senang yg lagi gaet abg cantik”, kata om ketika keluar dari bioskop.
“Kamu manja amat sih”.
“Biarin aja”, jawabku.
“Mo kemana lagi nih”.
“Pulang yuk om”.
“ayuk”.

Kami menuju ke tempat parkir dan langsung kembali ke apartment. Segera mobil meluncur kembali ke apartment, tak lama karena apartment dekat dgn mal. Sesampe di apartment aqu segera tuker dgn pakean rumah lagi. aqu kalo dirumah Memang tak memakai breast Houlder. Aqu hanya memakai tanktop ketat sepinggang dan celana pendek yg juga ketat. kedua putingku tampak jelas sekali tercetak di tanktopku. Si om terpana melihat lekak liku bodiku yg Memang mengundang selera laki laki yg melihatnya.

“Kamu beneran mo om temenin”.
“Kalo om tak keberatan”.
“Tapi om tak bawa baju ganti”.
“Nanti aqu ambilin celana kolor dan baju kaos bapak”.

Segera aqu keluar apartment, membuka apartment orang tua dan masuk ke kamar orang tua untuk mengambil celana kolor dan kaos oblong bapak.

“Kegedean kali ya om, bapak kan gendut”, kagaqu sembari menyerahkan pakean itu ke om.
“Tak apa, kan cuma buat bobo”.

Si om masuk ke kamarku, ketika keluar kamar hanya memakai celana kolor gombrang dan kaos yg sedikit kebesaran. Kelihatannya dia tak mengenakan CD karena kemaluannya kelihatan jelas tercetak di celana gombrangnya, kayanya dah ngaceng deh. Mungkin dia napsu ngeliat bodiku. Om duduk di sofa nonton tv. Aqu duduk disebelahnya.

“Din kamu seksi sekali. buah dada kamu besar juga ya, pasti pacar kamu suka ya, suka diremes2 ya Din ma pacar kamu”.
“Ih om tau aja”.
“Iya tau lah Din, om kan juga laki laki. Laki laki mana yan tak suka ngeremes buah dada montok seperti buah dadamu itu”.
“Om suka ngeremes juga ya, terus om ngeremes siapa, kan tak ada tante”. Om cuma tersenyum,
“Kamu mau tak om remes”. “Ih om genit ih”.
“Kamu suka nonton filem dewasa ya Din”.
“Iya om ma pacar Dina”.
“Dimana nontonnya?”
“Dirumah pacar Dina, dia kan sering sendirian di rumahnya, orang tuanya sering pergi dua2nya, katanya berbisnis”. Terus, diremes deh”.
“Iya om, abis nonton filem gituan kan napsu juga”.
“Cuma diremes?”
“he he”, aqu hanya tertawa. “Kamu dah sering maen ma pacar kamu ya Din”.
“Tak sering om, cuma ampir tiap malem minggu”.
“Itu mah sering”, kata om sembari merangkul pundakku.

Aqu merinding ketika om menarikku merapat ketubuhnya. Dia mencium pipiku.

“Om bawa filem dewasa, yg maen orang indonesia ma bule. mo liat?’
“Mau om, biasanya aqu nonton kalo tak bule, ya cina apa jepun”.

Si om mengambil dvd dari tas yg dibawanya tdi dan dipasangnya. Segera filempun mulai. Perempuannya orang sini, togepasar lah, jembutnya juga lebat, sedang si bule krempeng, tapi kemaluannya gede en panjang banget. Biasalah ritual filem dewasa saling isep sampe akhirnya si bule naikin tu perempuan dan masuk deh. serenade ah uh dimulai. Si om rupanya sudah dibawah pengaruh napsu berahinya. Dia menatapku dgn pandangan yg seakan2 mau menelanjangiku. Segera dia mencium bibirku, aqu menyambutnya.

Lidah kami saling melilit dan kemudian dijulurkan lidahnya kedalam mulutku. Segera kuemut lidahnya, kemudian ganti aqu yg menjulurkan lidahku ke mulutnya. Diapun tak menyia2kan kesempatan untuk segera memerah kedua buah dadaku gantian.

“Din, om dah lama pengen ngeremes buah dada kamu”. Putingku yg dah mulai mengeras dipilin2 dari luar tanktopku.

“Dilepas ya Din tanktopnya”, katanya seraya menarik tanktopku keatas.

Dvd dimatikannya karena kami sudah tak lagi memperhatikan perilaqu ke2 anak manusia yg berlainan jenis sedang beraksi di filem itu. Buah dadaku sudah telanjang dihadapannya. Dia segera meremas2 buah dadaku.

“Baru 16 dah besar gini Din buah dada kamu, kenceng lagi, om mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau kan”, katanya perlahan sembari mencium buah dada ku yg montok. “.

Aqu diam saja, mataku terpejam. Dia mengendus-endus kedua buah dadaku yg berbau harum sembari sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahnya. puting buah dada kananku dilahap ke dalam mulutnya. Tubuhku sedikit tersentak ketika puting itu digencet perlahan dgn menggunakan lidah dan gigi atasnya.

“Om…”, rintihku, tindakannya membangkitkan napsuku juga.

Aqu menjadi sangat ingin merasakan kenikmatan dien tot, sehingga aqu diam saja membiarkan dia menjelajahi tubuhku.

Disedot-sedotnya puting buah dadaku secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak diperkuat sedotannya. Diperbesar daerah lahapan bibirnya. Kini puting dan buah dada sekitarnya yg berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutnya. Kembali disedotnya daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajahku tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua buah dadaku yg harum itu diciumi dan disedot-sedot secara berirama.

Dibenamkannya wajahnya di antara kedua belah gumpalan dada ku. Perlahan-lahan dia bergerak ke arah bawah. Digesek-gesekkan wajahnya di lekukan tubuhku yg merupakan batas antara gumpalan buah dada dan kulit perutku. Kiri dan kanan diciumi dan dijilatinya secara bergantian. Kecupan-kecupan bibir, jilatan-jilatan lidah, dan endusan-endusan hidungnya pun beralih ke perut dan pinggangku. Bibir dan lidahnya menyusuri perut sekeliling pusarku yg putih mulus. Wajahnya bergerak lebih ke bawah.

Dgn hasrat yg menggelora dia memeluk pinggulku secara perlahan-lahan. Celana pendekku ditariknya kebawah, aqu mengangkat pantatku supaya lebih mudah dia melepaskan celanaqu. Kecupannya pun berpindah ke CD tipis yg membungkus pinggulku. Ditelusurinya pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Dijilatnya helaian-helaian rambut jembutku yg keluar dari CDku.

“Din, jembut kamu lebat banget ya, pantes kamu napsunya besar”. Lalu diendus dan dijilatnya CD pink itu di bagian belahan bibir kemaluanku. Aqu makin terengah menahan napsuku, sesekali aqu melenguh menahan kenikmatan yg kurasakan.

Dia melepaskan semua yg nempel ditubuhnya sehingga bertelanjang bulat. Aqu terkejut melihat kemaluannya yg begitu besar dan panjang dalam keadaan sangat tegang. Napsuku bangkit juga melihat kemaluannya, timbul hasratku untuk merasakan bagaimana nikmatnya kalo kemaluan besar itu menggesek keluar masuk kemaluanku. Dia bangkit. Dgn posisi berdiri di atas lutut dikangkanginya tubuhku. kemaluannya yg tegang ditempelkan di kulit buah dadaku. Kepala kemaluan digesek-gesekkan di buah dadaku yg montok itu.

Sembari mengocok batangnya dgn tangan kanannya, kepala kemaluannya terus digesekkan di buah dadaku, kiri dan kanan. Sesudah sekitar dua menit dia melaqukan hal itu. Diraih kedua belah gumpalan buah dadaku yg montok itu. Dia berdiri di atas lutut dgn mengangkangi pinggang ramping ku dgn posisi tubuh sedikit membungkuk. kemaluannya dijepitnya dgn kedua gumpalan buah dadaku. Perlahan-lahan digerakkannya maju-mundur kemaluannya di cekikan kedua buah dada ku. Di kala maju, kepala kemaluannya terlihat mencapai pangkal leherku yg jenjang. Di kala mundur, kepala kemaluannya tersembunyi di jepitan buah dadaku. L

ama-lama gerak maju-mundur kemaluannya bertambah cepat, dan kedua buah dadaku ditekannya semakin keras dgn telapak tangannya agar jepitan di kemaluannya semakin kuat. Dia pun merem melek menikmati enaknya jepitan buah dadaku. Aqupun mendesah-desah tertahan,

“Ah… hhh… hhh… ah…” kemaluannya pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan buah dadaku.

Gerakan maju-mundur kemaluannya di dadaqu yg diimbangi dgn tekanan-tekanan dan remasan-remasan tangannya di kedua buah dadanya, menyebabkan cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadaqu yg menjepit kemaluannya. Cairan tersebut menjadi pelumas yg memperlancar maju-mundurnya kemaluannya di dalam jepitan buah dadaku. Dgn adanya sedikit cairan dari kemaluannya tersebut dia terlihat merasakan keenakan dan kehangatan yg luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kemaluannya dgn buah dadaku.

“Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” dia tak kuasa menahan rasa enak yg tak terperi. Nafasku menjadi tak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirku , yg kadang diseling desahan lewat hidungku,
“Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahanku semakin membuat hasratnya makin memuncak.

Gesekan-gesekan maju-mundurnya kemaluannya di jepitan buah dadaku semakin cepat. kemaluannya semakin tegang dan keras.

“Enak sekali, Din”, erangnya tak tertahankan.

Dia menggerakkan kemaluannya maju-mundur di jepitan buah dadaku dgn semakin cepat. Alis mataku bergerak naik turun seiring dgn desah-desah perlahan bibirku akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di buah dadaku. Ada sekitar lima menit dia menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan buah dadaku itu. Buah dada sebelah kanan dilepas dari telapak tangannya. Tangan kanannya lalu membimbing kemaluan dan menggesek-gesekkan kepala kemaluan dgn gerakan memutar di kulit buah dadaku yg halus mulus.

Sembari jari-jari tangan kirinya terus meremas buah dada kiriku, kemaluannya digerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarku, kepala kemaluannya digesekkan memutar di kulit perutku yg putih mulus, sembari sesekali disodokkan perlahan di lobang pusarku. Dicopotnya CD minimku. Pinggulku yg melebar itu tak berpenutup lagi. Kulit perutku yg semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutku, jembutku yg hitam lebat menutupi daerah sekitar kemaluanku.

Kedua paha mulusku direnggangkannya lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perutku terkuak, mempertontonkan kemaluanku. Dia pun mengambil posisi agar kemaluannya dapat mencapai kemaluanku dgn mudahnya. Dgn tangan kanan memegang kemaluan, kepalanya digesek-gesekkannya ke jembutku. Kepala kemaluannya bergerak menyusuri jembut menuju ke kemaluanku. Digesek-gesekkan kepala kemaluan ke sekeliling bibir kemaluanku. Terasa geli dan nikmat. Kepala kemaluan digesekkan agak ke arah kemaluanku. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut kemaluanku menjadi basah. Digetarkan perlahan-lahan kemaluannya sembari terus memasuki kemaluanku.

Kini seluruh kepala kemaluannya yg berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut kemaluanku. Kembali dari mulutku keluar desisan kecil karena nikmat tak terperi. Kemaluannya semakin tegang. Sementara dinding mulut kemaluanku terasa semakin basah. Perlahan-lahan kemaluannya ditusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh kemaluan yg tersisa di luar. Secara perlahan dimasukkan kemaluannya ke dalam kemaluanku. Terbenam sudah seluruh kemaluannya di dalam kemaluanku. Sekujur kemaluan sekarang dijepit oleh kemaluanku . Secara perlahan-lahan digerakkan keluar-masuk kemaluannya ke dalam kemaluanku. Sewaktu keluar, yg tersisa di dalam kemaluanku hanya kepalanya saja. Sewaktu masuk seluruh kemaluan terbenam di dalam kemaluanku sampai batas pangkalnya.

Dia terus memasuk-keluarkan kemaluannya ke lobang kemaluanku. Alis mataku terangkat naik setiap kali kemaluannya menusuk masuk kemaluanku secara perlahan. Bibir segarku yg sensual sedikit terbuka, sedang gigiku terkatup rapat. Dari mulut sexy ku keluar desis kenikmatan,

“Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Dia terus mengocok perlahan-lahan kemaluanku. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali dikocoknya secara perlahan kemaluanku sampai selama dua menit.

Kembali ditariknya kemaluannya dari kemaluanku. Namun tak seluruhnya, kepala kemaluan masih dibiarkannya tertanam dalam kemaluanku. Sementara kemaluan dikocoknya dgn jari-jari tangan kanannya dgn cepat Rasa enak itu agaknya kurasakan pula. Aqu mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kemaluannya pada dinding mulut kemaluanku,

“Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian dimasukkannya lagi seluruh kemaluannya ke dalam kemaluanku. Dan dikocoknya perlahan. Sampai kira-kira empat menit.

Lama-lama dia mempercepat gerakan keluar-masuk kemaluannya pada kemaluanku. Sembari tertahan-tahan, dia mendesis-desis,

“Din… kemaluanmu luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit.

Tiba-tiba dicopotnya kemaluan dari kemaluanku. Segera dia berdiri dgn lutut mengangkangi tubuhku agar kemaluannya mudah mencapai buah dadaku. Kembali diraihnya kedua belah buah dada montok ku untuk menjepit kemaluannya yg berdiri dgn amat gagahnya. Agar kemaluannya dapat terjepit dgn enaknya, dia agak merundukkan tubuhnya. Kemaluan dikocoknya maju-mundur di dalam jepitan buah dadaku. Cairan kemaluanku yg membasahi kemaluannya kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kemaluannya dan kulit buah dadaku.

“Oh…hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, dia merintih-rintih keenakan. Aqu juga mendesis-desis keenakan,
“Sssh.. sssh… sssh…” Gigiku tertutup rapat. Alis mataku bergerak ke atas ke bawah.

Dia mempercepat maju-mundurnya kemaluannya. Dia memperkuat tekanan pada buah dadaku agar kemaluannya terjepit lebih kuat. Karena basah oleh cairan kemaluanku, kepala kemaluannya tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan buah dadaku. Leher kemaluan yg berwarna coklat tua dan helm kemaluan yg berwarna pink itu menari-nari di jepitan buah dadaku. Semakin dipercepat kocokan kemaluannya pada buah dadaku. Tiga menit sudah kocokan hebat kemaluannya di buah dada montok ku berlangsung. Dia makin cepat mengocokkan kemaluan di kempitan buah dada indah ku. Akhirnya dia tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahanannya.

“Din..!” pekiknya dgn tak tertahankan. Matanya membeliak-beliak. Jebollah pertahanannya.

Kemaluannya menyemburkan air mani. Crot! Crot! Crot! Crot! Air maninya menyemprot dgn derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahangku. Air mani tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang air mani mengalir turun ke arah leherku. Air mani yg tersisa di dalam kemaluannya pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal leherku, sedang yg terakhir hanya jatuh di atas belahan buah dadaku. Dia menikmati akhir-akhir kenikmatan.

“Luar biasa…Din, nikmat sekali tubuhmu…,” dia bergumam.
“Kok tak dikeluarin di dalem aja om”, kagaqu lirih.
“Tak apa kalo om ngecret didalem Din”, jawabnya.
“Tak apa om, biasanya pacarku juga ngecret didalem kok om. Tapi belum dien tot juga aqu ngerasa nikmat sekali om”, kagaqu lagi.
“Ini baru ronde pertama Din, mau lagi kan ronde kedua”, katanya.
“Mau om, tapi ngecretnya didalem ya”, jawabku. “Kok tadi kamu diem aja Din”, katanya lagi.
“Bingung om, tapi nikmat”, jawabku sembari tersenyum.
“Engh…” aqu menggeliatkan tubuhku.

Dia segera mengelap kemaluan dgn tissue yg ada di atas meja, dan mengelap air mani yg berleleran di rahang, leher, dan buah dadaku. Ada yg tak dapat dilap, yakni cairan air mani yg sudah terlajur jatuh di rambut ku.

“Mo kemana om”, tanyaqu.
“Mo ambil minum dulu”, jawabnya.

Dia kembali membawa gelas berisi air putih, diberikannya kepada ku yg langsung kutengtak sampe habis. Dia kembali lagi untuk mengisi gelas dgn air. Masih tak puas dia memandangi buah dada indahku yg terhampar di depan matanya. Dia memandang ke arah pinggangku yg ramping dan pinggulku yg melebar indah. Terus tatapannya jatuh ke kemaluanku yg dikelilingi oleh jembut hitam jang lebat. Aqu ingin mengulangi permainan tadi, digeluti, didekap kuat. Mengocok kemaluanku dgn kemaluannya dgn irama yg menghentak-hentak kuat. Dan dia dapat menyemprotkan air maninya di dalam kemaluanku sembari merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aqu nyampe. Hasratku terbakar. Aqu diajaknya kekamar. Aqu berbaring diranjang dan dia disebelahku.

“Din…,” desahnya penuh hasrat. Bibirnya pun menggeluti bibirku. Bibir sensualku yg menantang itu dilumat-lumat dgn ganasnya. Sementara aqu pun tak mau kalah. Bibirku pun menyerang bibirnya dgn dahsyatnya, seakan tak mau kedahuluan oleh lumatan bibirnya. Kedua tangannyapun menyusup diantara lenganku. Tubuhku sekarang besedikit dalam dekapannya. Dia mempererat dekapannya, sementara aqu pun mempererat pelukanku pada dirinya. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke tubuhku, buah dadaku yg membusung terasa semakin menekan dadanya. Aqu meremas-remas kulit punggungnya. Aqu mencopot celananya dan merangkul punggungnya lagi.

Dia kembali mendekap erat tubuhku sembari melumat kembali bibirku. Dia terus mendekap tubuhku sembari saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian depan kami yg saling menempel. Kini kurasakan buah dadaku yg montok menekan ke dadanya. Dan ketika saling sedikit bergeseran, putingku seolah-olah menggelitiki dadanya. Kemaluannya terasa hangat dan mengeras. Tangan kirinya pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar ku, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutnya. Kemaluannya tergencet diantara perut bawahku dan perut bawahnya. Sementara bibirnya bergerak ke arah leherku, diciumi, dihisap-hisap dgn hidungnya, dan dijilati dgn lidahnya.

“Ah… geli… geli…,” desahku sembari menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai daguku terbuka dgn luasnya. Aqu pun membusungkan dadaqu dan melenturkan pinggangku ke depan. Dgn posisi begitu, meskipun wajahnya dalam keadaan menggeluti leherku, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dgn rapatnya.

Tangan kanannya lalu bergerak ke dadaqu yg montok, dan meremas-remas buah dadaku dgn perasaan gemas. Sesudah puas menggeluti leherku, wajahnya turun ke arah belahan dadaqu. Dia berdiri dgn agak merunduk. Tangan kirinya pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi buah dada. Digeluti belahan buah dadaku, sementara kedua tangannya meremas-remas kedua belah buah dadaku sembari menekan-nekankannya ke arah wajahnya. Digesek-gesekkan memutar wajahnya di belahan buah dadaku. Bibirnya bergerak ke atas bukit buah dada sebelah kiri. Diciuminya bukit buah dadaku, dan dimasukkan puting buah dadaku ke dalam mulutnya. Kini dia menyedot-sedot puting buah dada kiriku. Di ainkan putingku di dalam mulutnya dgn lidah. Sedotan kadang diperbesar ke puncak bukit buah dada di sekitar puting yg berwarna coklat.

“Ah… ah… om…geli…,” aqu mendesis-desis sembari menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Dia memperkuat sedotannya.

Sementara tangannya meremas kuat buah dada sebelah kanan. Kadang remasan diperkuat dn diperkecil menuju puncak, dan diakhiri dgn tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jarinya pada putingku.

“Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Dia semakin gemas.

Buah dadaku dimainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit buah dada kadang disedot sebesar-besarnya dgn tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yg disedot hanya putingku dan dicepit dgn gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang diremas dgn daerah tangkap sebesar-besarnya dgn remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya dipijit-pijit dan dipelintir-pelintir kecil puting yg mencuat gagah di puncaknya.

“Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” aqu mendesis-desis keenakan. Mataku kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhku ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya. Sampai akhirnya aqu tak kuat melayani serangan-serangan awalnya. Jari-jari tangan kananku yg mulus dan lembut menangkap kemaluannya yg sudah berdiri dgn gagahnya. “Om.. kemaluannya besar ya”, ucapku. Sembari membiarkan mulut, wajah, dan tangannya terus memainkan dan menggeluti kedua belah buah dadaku, jari-jari lentik tangan kananku meremas-remas perlahan kemaluannya secara berirama.

Dia merengkuh tubuhku dgn gemasnya. Dikecupnya kembali daerah antara telinga dan leherku. Kadang daun telinga sebelah bawahnya dikulum dalam mulutnya dan dimainkan dgn lidahnya. Kadang ciumannya berpindah ke punggung leherku yg jenjang. Dijilati pangkal helaian rambutku yg terjatuh di kulit leherku. Sementara tangannya mendekap dadaqu dgn eratnya. Telapak dan jari-jari tangannya meremas-remas kedua belah buah dadaku. Remasannya kadang sangat kuat, kadang melemah. Sembari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya menggencet dan memelintir perlahan puting buah dada kiriku, sementara tangan kirinya meremas kuat bukit buah dada kananku dan bibirnya menyedot kulit mulus pangkal leherku yg bebau harum, kemaluannya digesek-gesekkan dan ditekan-tekankan ke perutku. Aqu pun menggelinjang ke kiri-kanan.

“Ah… om… ngilu… terus om… terus… ah… geli… geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” aqu merintih-rintih sembari terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dgn berirama sejalan dgn permainan tangannya di buah dadaku. Akibatnya pinggulku menggial ke kanan-kiri.
“Din.. enak sekali Din… sssh… luar biasa… enak sekali…,” diapun mendesis-desis keenakan.
“Om keenakan ya? kemaluan om terasa besar dan keras sekali menekan perut aqu. Wow… kemaluan om terasa hangat di kulit perut aqu. Tangan om nakal sekali … ngilu,…,” rintihku.
“Jangan mainkan hanya putingnya saja… geli… remas seluruhnya saja…” aqu semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratnya.

Aqu sudah makin liar saja desahannya, aqu sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa dia ini om suamiku.

“Om.. remasannya kuat sekali… Tangan om nakal sekali..Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kemaluan om … besar sekali… kuat sekali…”

Aqu menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirku melumat bibirnya dgn ganasnya. Dia pun tak mau kalah. Dilumatnya bibirku dgn penuh hasrat yg menggelora, sementara tangannya mendekap tubuhku dgn kuatnya. Kulit punggungku yg teraih oleh telapak tangannya diremas-remas dgn gemasnya. Kemudian dia menindihi tubuhku. Kemaluannya terjepit di antara pangkal pahaqu dan perutnya bagian bawah. Akhirnya dia tak sabar lagi. Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leherku, sementara tangannya membimbing kemaluannya untuk mencari kemaluanku.

Diputar-putarkan dulu kepala kemaluannya di kelebatan jembut disekitar bibir kemaluanku. Aqu meraih kemaluannya yg sudah amat tegang. Pahaqu yg mulus itu terbuka agak lebar. “Om kemaluannya besar dan keras sekali” kagaqu sembari mengarahkan kepala kemaluannya ke kemaluanku. Kepala kemaluannya menyentuh bibir kemaluanku yg sudah basah. Dgn perlahan-lahan dan sembari digetarkan, kemaluan ditekankan masuk ke kukemaluan. Kini seluruh kepala kemaluannya pun terbenam di dalam kemaluanku. Dia menghentikan gerak masuk kemaluannya.

“Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” aqu protes atas tindakannya.

Namun dia tak perduli. Dibiarkan kemaluannya hanya masuk ke kemaluanku hanya sebatas kepalanya saja, namun kemaluannya digetarkan dgn amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungnya dgn ganasnya menggeluti leherku yg jenjang, lengan tanganku yg harum dan mulus, dan ketiakku yg bersih dari bulu. Aqu menggelinjang-gelinjang dgn tak karuan.

“Sssh… sssh…enak… enak… geli..geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirnya mengulum kulit lengan tanganku dgn kuat-kuat.

Sementara tenaga dikonsentrasikan pada pinggulnya. Dan…satu… dua… tiga! kemaluannya ditusukkan sedalam-dalamnya ke dalam kemaluanku dgn sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu dgn pangkal pahaqu yg sedang dalam posisi agak membuka dgn kerasnya. Sementara kemaluannya bagaikan diplirid oleh bibir kemaluanku yg sudah basah dgn kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

“Auwww!” pekikku. Dia diam sesaat, membiarkan kemaluannya tertanam seluruhnya di dalam kemaluanku tanpa bergerak sedikit pun.
“Sakit om… ” kagaqu sembari meremas punggungnya dgn keras.

Dia pun mulai menggerakkan kemaluannya keluar-masuk kemaluanku. Seluruh bagian kemaluannya yg masuk kemaluanku dipijit-pijit dinding lobang kemaluanku dgn agak kuatnya.

“Bagaimana Din, sakit?” tanyaqu.
“Sekarang sudah engtak om…ssh… enak sekali… enak sekali… kemaluan om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru kemaluan aqu..,” jawabku. Dia terus memompa kemaluanku dgn kemaluannya perlahan-lahan.

Buah dadaku yg menempel di dadanya ikut terpilin-pilin oleh dadanya akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingku yg sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadanya. Kemaluannya diiremas-remas dgn berirama oleh otot-otot kemaluanku sejalan dgn genjotannya tersebut. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kemaluannya menyentuh suatu daging hangat di dalam kemaluanku. Sentuhan tersebut serasa geli-geli nikmat. Dia mengangkat kedua kakiku. Sembari menjaga agar kemaluannya tak tercabut dari kemaluanku, dia mengambil posisi agak jongkok. Betis kananku ditumpangkan di atas bahunya, sementara betis kiriku didekatkan ke wajahnya.

Sembari terus mengocok kemaluanku perlahan dgn kemaluannya, betis kiriku yg amat indah itu diciumi dan dikecupi dgn gemasnya. Sesudah puas dgn betis kiri, ganti betis kanannya yg diciumi dan digeluti, sementara betis kiriku ditumpangkan ke atas bahunya. Begitu hal tersebut dilaqukan beberapa kali secara bergantian, sembari mempertahankan gerakan kemaluannya maju-mundur perlahan di kemaluan ku. Sesudah puas dgn cara tersebut, dia meletakkan kedua betisku di bahunya, sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah buah dadaku. Masih dgn kocokan kemaluan perlahan di kemaluanku, tangannya meremas-remas buah dada montok ku. Kedua gumpalan daging kenyal itu diremas kuat-kuat secara berirama.

Kadang kedua putingku digencet dan dipelintir-pelintir secara perlahan. Putingku semakin mengeras, dan bukit buah dadaku semakin terasa kenyal di telapak tangannya. Aqu pun merintih-rintih keenakan. Mataku merem-melek, dan alisku mengimbanginya dgn sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.

“Ah…om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kemaluan om membuat kemaluan aqu merasa enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar kemaluan, ya om. Ngecret di dalam saja… ” Dia mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kemaluannya di kemaluanku. “Ah-ah-ah… bener, om. Bener… yg cepat…Terus om, terus… ” Dia bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihanku.

Tenaganya menjadi berlipat ganda. Ditingkatkan kecepatan keluar-masuk kemaluannya di kemaluanku. Terus dan terus. Seluruh bagian kemaluannya diremas-remas dgn cepatnya oleh kemaluanku. Aqu menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya, dia pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yg luar biasa.

“Sssh… sssh… Din… enak sekali… enak sekali kemaluanmu… enak sekali kemaluanmu…”
“Ya om, aqu juga merasa enak sekali… terusss…terus om, terusss…” Dia meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kemaluannya pada kemaluanku.
“Om… sssh… sssh… Terus… terus… aqu hampir nyampe…sedikit lagi… sama-sama ya om…,” aqu jadi mengoceh tanpa kendali. Dia mengayuh terus. Sementara itu kemaluanku berdenyut dgn hebatnya.
“Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kemaluannya dijepit oleh dinding kemaluan ku dgn sangat kuatnya.

Di dalam kemaluanku, kemaluannya disemprot oleh cairan yg keluar dari kemaluanku dgn cukup derasnya. Dan aqu meremas lengan tangannya dgn sangat kuatnya. Aqu pun berteriak tanpa kendali:

“…keluarrr…!” Mataku membeliak-beliak. Sekejap tubuh kurasakan mengejang. Dia pun menghentikan genjotannya.

Kemaluannya yg tegang luar biasa dibiarkan tertanam dalam kemaluanku. Aqu memejam beberapa saat dalam menikmati puncak. Sesudah sekitar satu menit berlangsung, remasan tanganku pada lengannya perlahan-lahan mengendur. Kelopak mataku pun membuka, memandangi wajahnya. Sementara jepitan dinding kemaluanku pada kemaluannya berangsur-angsur melemah, meskipun kemaluannya masih tegang dan keras. Kedua kakiku lalu diletakkan kembali di atas ranjang dgn posisi agak membuka. Dia kembali menindih tubuh telanjangku dgn mempertahankan agar kemaluannya yg tertanam di dalam kemaluanku tak tercabut.

“Om… luar biasa… rasanya seperti ke langit ke tujuh,” kagaqu dgn mimik wajah penuh kepuasan.

Kemaluannya masih tegang di dalam kemaluanku. Kemaluannya masih besar dan keras. Dia kembali mendekap tubuhku. Kemaluannya mulai bergerak keluar-masuk lagi di kemaluanku, namun masih dgn gerakan perlahan. Dinding kemaluanku secara berangsur-angsur terasa mulai meremas-remas kemaluannya. Namun sekarang gerakan kemaluannya lebih lancar dibandingkan dgn tadi. Pasti karena adanya cairan yg disemprotkan oleh kemaluanku beberapa saat yg lalu.

“Ahhh…om… langsung mulai lagi… Sekarang giliran om.. semprotkan air mani om di kemaluan aqu.. Sssh…,” aqu mulai mendesis-desis lagi.

Bibirnya mulai memagut bibirku dan melumat-lumatnya dgn gemasnya. Sementara tangan kirinya ikut menygga berat tubuhnya, tangan kanannya meremas-remas buah dada ku serta memijit-mijit putingnya, sesuai dgn irama gerak maju-mundur kemaluannya di kemaluanku.

“Sssh… sssh… sssh… enak om, enak… Terus…teruss… terusss…,” desisku. Sembari kembali melumat bibirku dgn kuatnya, dia mempercepat genjotan kemaluannya di kemaluanku. Pengaruh adanya cairan di dalam kemaluanku, keluar-masuknya kemaluan pun diiringi oleh suara,
“srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Aqu tak henti-hentinya merintih kenikmatan,
“Om… ah… ” Kemaluannya semakin tegang. Dilepaskannya tangan kanannya dari buah dadaku.

Kedua tangannya kini dari ketiak ku menyusup ke bawah dan memeluk punggungku. Aqupun memeluk punggungnya dan mengusap-usapnya. Dia pun memulai serangan dahsyatnya. Keluar-masuknya kemaluannya ke dalam kemaluan ku sekarang berlangsung dgn cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kemaluan dihunjamkan keras-keras agar menusuk kemaluanku sedalam-dalamnya. Kemaluannya bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding kemaluanku. Sampai di langkah terdalam, aqu membeliak sembari mengeluarkan seruan tertahan,

“Ak!” Sementara daging pangkal pahanya bagaikan menampar daging pangkal pahaqu sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar kemaluanku, kemaluannya dijaga agar kepalanya tetap tertanam di kemaluanku.

Remasan dinding kemaluanku pada kemaluannya pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dgn gerak masuknya. Bibir kemaluanku yg mengulum kemaluannya pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak keluar ini aqumendesah,

“Hhh…” Dia terus menggenjot kemaluanku dgn gerakan cepat dan menghentak-hentak.

Aqu meremas punggungnya kuat-kuat di saat kemaluan dihunjam masuk sejauh-jauhnya ke kemaluanku. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kemaluannya dan kemaluanku menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecilku:

“Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
“Din… Enak sekali Din… kemaluanmu enak sekali… kemaluanmu hangat sekali… jepitan kemaluanmu enak sekali…”
“Om… terus om…,” rintihku,
“enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Diapun mengocokkan kemaluannya ke kemaluanku dgn semakin cepat dan kerasnya.

Setiap masuk ke dalam, kemaluannya berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya.

“Din… aqu… aqu…” Karena menahan rasa nikmat yg luar biasa dia tak mampu menyelesaikan ucapannya yg Memang sudah terbata-bata itu.
“Om, aqu… mau nyampe lagi… Ak-ak-ak… aqu nyam…” Tiba-tiba kemaluannya mengejang dan berdenyut dgn amat dahsyatnya.

Dia tak mampu lagi menahan lebih lama lagi. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding kemaluan ku mencekik kuat sekali. Dgn cekikan yg kuat dan enak sekali itu, dia tak mampu lagi menahan jebolnya bendungan air maninya. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kemaluannya disemprot cairan kemaluanku, bersamaan dgn pekikanku,

“…nyampee…!” Tubuhku mengejang dgn mata membeliak-beliak.
“Din…!” dia melenguh keras-keras sembari merengkuh tubuhku sekuat-kuatnya. Wajahnya dibenamkan kuat-kuat di leherku yg jenjang. Air maninya pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Air maninya menyembur dgn derasnya, menyemprot dinding kemaluanku yg terdalam. Kemaluannya yg terbenam semua di dalam kemaluanku terasa berdenyut-denyut. Beberapa saat lamanya kami terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali.

Dia menghabiskan sisa-sisa air mani dalam kemaluannya. Cret! Cret! Cret! kemaluannya menyemprotkan lagi air mani yg masih tersisa ke dalam kemaluanku. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuhku maupun tubuhnya tak mengejang lagi. Dia menciumi leher mulusku dgn lembutnya, sementara aqu mengusap-usap punggungnya dan mengelus-elus rambutnya. Aqu merasa puas sekali dien tot om. Ini baru awal permainan, karena si om akan nemani aqu sampe besok sore, baygkan berapa besarnya kenikmatan yg akan aqu peroleh dari kemaluan si om.

 

The post SENSASI DENGAN OMKU appeared first on Memekbebek | Cerita sex | Cerita Dewasa.

Ayo share...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone
Penulis: admin
Tags

Post yg mirip

Menu Title